Oleh: Rini Rahmawati
Cinta itu msh tersisa,
Cinta yg utk mu,
Cinta itu msh membekas di dalam hati ku,
Hingga kini aku pun sangat merindukan mu,
Terpapar lara ku perih menyayat,
Saat ku tau kabar tentang mu,
Tapi tak apa,,aq cukup kuat,
Smuany mnjadi pasti,
Saat ku berharap,dan saat ku brhenti berharap,
Krn aku tau,,kau tak mungkin ku miliki,
Aku tau mustahil cinta mu utk ku,
Tetapi aku tetap brsyukur,
Tlah jatuh hati pd mu...
Kau semoga bahagia...
Bersanding dg kekasih mu.
Sunday, December 21, 2014
Cinta di Hati Saja
Oleh: Rini Rahmawati
Dan akhirnya aku kalah,
Tapi apa aku bisa bersikap biasa??
Sedang hati ku tlah jatuh cinta,
Sekuat mungkin ku hadang lajunya,
Namun percuma aku kian terbuai,
Kau yang maya terlampau jauh,
Hingga ku batasi harap ku,
Kau yang indah terlampau mustahil,
Hingga ku menjauhi hati ku,
Bukannya aku takut terluka,
Akupun sudah cukup kecewa,
Terlebih ini sangat menyakitkan untuk ku,
Dan apa aku masih bisa bersikap biasa?
Ku tutupi agar tak nampak rasa ku di mata mu,
Hanya untaian kata maaf yang slalu ku tuangkan,
Di secawan emas yang kau genggam,
Hingga bibir ku lelah&kelu,
Hingga kedua mata ku sayup&meleleh,
Hingga wajah ku kuyup&pasih penuh air mata,
Cinta aku tau diri, Aku mengenali perasaan itu,
Tapi sungguh sulit untuk di jabarkan oleh nalar ku,
Hanya rindu yg slalu memeluk tubuh ku,
Lalu apa aku msh bisa bersikap biasa pd mu???
Dan akhirnya aku kalah,
Tapi apa aku bisa bersikap biasa??
Sedang hati ku tlah jatuh cinta,
Sekuat mungkin ku hadang lajunya,
Namun percuma aku kian terbuai,
Kau yang maya terlampau jauh,
Hingga ku batasi harap ku,
Kau yang indah terlampau mustahil,
Hingga ku menjauhi hati ku,
Bukannya aku takut terluka,
Akupun sudah cukup kecewa,
Terlebih ini sangat menyakitkan untuk ku,
Dan apa aku masih bisa bersikap biasa?
Ku tutupi agar tak nampak rasa ku di mata mu,
Hanya untaian kata maaf yang slalu ku tuangkan,
Di secawan emas yang kau genggam,
Hingga bibir ku lelah&kelu,
Hingga kedua mata ku sayup&meleleh,
Hingga wajah ku kuyup&pasih penuh air mata,
Cinta aku tau diri, Aku mengenali perasaan itu,
Tapi sungguh sulit untuk di jabarkan oleh nalar ku,
Hanya rindu yg slalu memeluk tubuh ku,
Lalu apa aku msh bisa bersikap biasa pd mu???
Hujan
Oleh: Rini Rahmawati
Tik..tik...tik.... Hujan perlahan luruh,
Di lembaran daun yg menyambut penuh ikhlas,
Tangkaian bunga merona,
Bermekaran di peluk dingin,
Gemerisik angin mengayunkan kesejukan,
Begitu lembut&mesra menyentuhi daun&bunga,
Aku berjalan di tepian tanpa payung,
Hujan menciumi tubuh q dg derainya,
Sedang jari q menyeka air mata d'kedua mata ku,
Aq trs menatap wlw semua samar,
Gambaran hati ku dlm cermin senja merah,
Aku rindu....
Tapi aq hanya brdiri mematung, Kelu lidah q tnpa suara...
Tik..tik...tik.... Hujan perlahan luruh,
Di lembaran daun yg menyambut penuh ikhlas,
Tangkaian bunga merona,
Bermekaran di peluk dingin,
Gemerisik angin mengayunkan kesejukan,
Begitu lembut&mesra menyentuhi daun&bunga,
Aku berjalan di tepian tanpa payung,
Hujan menciumi tubuh q dg derainya,
Sedang jari q menyeka air mata d'kedua mata ku,
Aq trs menatap wlw semua samar,
Gambaran hati ku dlm cermin senja merah,
Aku rindu....
Tapi aq hanya brdiri mematung, Kelu lidah q tnpa suara...
Saturday, December 6, 2014
Kasih Tak Sampai
Oleh: Rini Rahmawati
Rerimbun rasa menjalari hati,
Tetabuhkan lara dlm kesunyian,
Brkerudung nelangsa cinta mempesona,
Kidung2 sepi di lelamunan wajah,
Kesenyapan q di waktu yg kosong,
Merajut mimpi setinggi langit,
Mengkokohkan imaji sekuat gunung,
Menggoreskan aksara di lembaran senjakala memerah,
Guratan pena kias menyajak dlm kilauan,
Tentang so2k abstrak yg aq rindu,
Brdiri di ujung kegelapan saat senja menyudahi janji,
Brtandang malam memekat di langit tnpa satupun cahaya,
Menari harap saat hujan luruh pnuh romansa,
Brnyanyi kelu saat gemericik hujan brnada sendu,
Sayup2 suara hati q mnggubah haluan,
Lama nian aq menanti,
Lelah sudah aq menungu,
Meremah jualah jiwa q rebah d'pelataran asmara yg memabukan,
Tidakkah kau dengar ini,itu??
Tidkkah kau mngerti hasrat q brgejolak??
Aq jatuh cinta pd mu,,,
Syair rapuh q membait meremas hati q trpuruk,
Kau ttp tak peduli sungguh miris,
Kau berlalu dan memeluk tubuh itu,
Esok jua aq mati merana mnyaksikan kau brsanding,
Mnjadi raja&ratu dlm singgasana cinta.
Rerimbun rasa menjalari hati,
Tetabuhkan lara dlm kesunyian,
Brkerudung nelangsa cinta mempesona,
Kidung2 sepi di lelamunan wajah,
Kesenyapan q di waktu yg kosong,
Merajut mimpi setinggi langit,
Mengkokohkan imaji sekuat gunung,
Menggoreskan aksara di lembaran senjakala memerah,
Guratan pena kias menyajak dlm kilauan,
Tentang so2k abstrak yg aq rindu,
Brdiri di ujung kegelapan saat senja menyudahi janji,
Brtandang malam memekat di langit tnpa satupun cahaya,
Menari harap saat hujan luruh pnuh romansa,
Brnyanyi kelu saat gemericik hujan brnada sendu,
Sayup2 suara hati q mnggubah haluan,
Lama nian aq menanti,
Lelah sudah aq menungu,
Meremah jualah jiwa q rebah d'pelataran asmara yg memabukan,
Tidakkah kau dengar ini,itu??
Tidkkah kau mngerti hasrat q brgejolak??
Aq jatuh cinta pd mu,,,
Syair rapuh q membait meremas hati q trpuruk,
Kau ttp tak peduli sungguh miris,
Kau berlalu dan memeluk tubuh itu,
Esok jua aq mati merana mnyaksikan kau brsanding,
Mnjadi raja&ratu dlm singgasana cinta.
Friday, December 5, 2014
Semoga Kau Bahagia
Oleh: Rini Rahmawati
Senja gerimis menirai sepi,
Dalam gubug harap aku menanti,
Rindu hati ku sangat rindu pada nya,
Adakah lentera kecil di ujung sana,??
Yang akan memberi secercah cahaya cinta untuk ku,
Yang akan menyinari hitam hati ku dalam kepekatan,
Sebelum gelap..sebelum gelap langit ku,
Aku sendiri dalam ketersesatan rasa ku,
Mendamba wajah kekasih dalam kekosongan,
Dia rupa yang samar dalam temaram,
Dia abstrak dalam kenyataan,
Aku masih berdiri sunyi,
Bersandar pada seonggok bambu rapuh,
Sedang gerimis kian tercurah,
Hujan di senjakala kian menderas,
Ujung itu masih terlampau jauh,
Sedangkan detik mendenting sendu,
Mengisyaratkan malam akan segera bertahta,
Menggantikan singgasana megah senja,
Yang tak merona merah saat ini,
Indahnya tersembunyi rapat di kaki langit,
Angin dingin menyusup membius ku,
Aku tersudut menggigil dalam kemalangan,
Gemelutuk belulang ku menahan yang tertahan,
Begitu erat dingin memeluk ku hingga beku,
Kepayahan ku dibuatnya dalam nelangsa,
Air mata tercecer di kegelapan malam,
Jerit suara hati dalam kebisuan kata,
Aku terpaut cinta di hati yang salah,
Esok nanti dia akan mengikat janji suci pada sang kekasih,
Berikrar cinta pada dua cincin yang melingkar,
Jalinan kasih terbentuk di atas luka hati ku,
Duhai takdir...lara ku tlah jatuh cinta,
Puas sudah aku menikmati tangis ku,
"Semoga bahagia"itulah baitan do'a ku untuk nya,
Senja gerimis menirai sepi,
Dalam gubug harap aku menanti,
Rindu hati ku sangat rindu pada nya,
Adakah lentera kecil di ujung sana,??
Yang akan memberi secercah cahaya cinta untuk ku,
Yang akan menyinari hitam hati ku dalam kepekatan,
Sebelum gelap..sebelum gelap langit ku,
Aku sendiri dalam ketersesatan rasa ku,
Mendamba wajah kekasih dalam kekosongan,
Dia rupa yang samar dalam temaram,
Dia abstrak dalam kenyataan,
Aku masih berdiri sunyi,
Bersandar pada seonggok bambu rapuh,
Sedang gerimis kian tercurah,
Hujan di senjakala kian menderas,
Ujung itu masih terlampau jauh,
Sedangkan detik mendenting sendu,
Mengisyaratkan malam akan segera bertahta,
Menggantikan singgasana megah senja,
Yang tak merona merah saat ini,
Indahnya tersembunyi rapat di kaki langit,
Angin dingin menyusup membius ku,
Aku tersudut menggigil dalam kemalangan,
Gemelutuk belulang ku menahan yang tertahan,
Begitu erat dingin memeluk ku hingga beku,
Kepayahan ku dibuatnya dalam nelangsa,
Air mata tercecer di kegelapan malam,
Jerit suara hati dalam kebisuan kata,
Aku terpaut cinta di hati yang salah,
Esok nanti dia akan mengikat janji suci pada sang kekasih,
Berikrar cinta pada dua cincin yang melingkar,
Jalinan kasih terbentuk di atas luka hati ku,
Duhai takdir...lara ku tlah jatuh cinta,
Puas sudah aku menikmati tangis ku,
"Semoga bahagia"itulah baitan do'a ku untuk nya,
Kau Bukan Untukku
Oleh: Rini Rahmawati
Pagi meng-eja makna stiap kata,
Menjamu rasa di pelataran hati,
Tersuguh cinta dlm cawan candu asmara,
Sapa membahana mnggetarkan kerlingan cahaya fajar,
Menjamur rindu mengejar sepoian angin,
Dingin,angkuh,sombong itulah waktu q,
Yg datang&pergi tanpa q tau,
Hanya sesimpul senyum msh tertinggal,
Di wajah itu....
Aaaah...aku jatuh cinta,
Canda tawa mngajak q menari d'langit biru,
Bersayapkan harap aq trbang utk singgah di hati nya,
Nyanyian jiwa q brdendang mnyatu dawai gesekan lembut biola,
Bagai sayat menyayat kekosongan,
Tertegun rupa nan samar trlukis indah,
Baitan suara serupa puisi cinta sang raja,
Tersembunyi bunga cantik d'antara lembaran yg brserakan,
Lentera pena tak lagi menyala dlm benderang,
Aq kalah lalu aq pulang,
Melepaskan cinta mu utk brsamanya,
Merelakan luka mnggerogoti hati q,
Bahagia mu bersanding dlm singgasana brmahkota cinta.
Pagi meng-eja makna stiap kata,
Menjamu rasa di pelataran hati,
Tersuguh cinta dlm cawan candu asmara,
Sapa membahana mnggetarkan kerlingan cahaya fajar,
Menjamur rindu mengejar sepoian angin,
Dingin,angkuh,sombong itulah waktu q,
Yg datang&pergi tanpa q tau,
Hanya sesimpul senyum msh tertinggal,
Di wajah itu....
Aaaah...aku jatuh cinta,
Canda tawa mngajak q menari d'langit biru,
Bersayapkan harap aq trbang utk singgah di hati nya,
Nyanyian jiwa q brdendang mnyatu dawai gesekan lembut biola,
Bagai sayat menyayat kekosongan,
Tertegun rupa nan samar trlukis indah,
Baitan suara serupa puisi cinta sang raja,
Tersembunyi bunga cantik d'antara lembaran yg brserakan,
Lentera pena tak lagi menyala dlm benderang,
Aq kalah lalu aq pulang,
Melepaskan cinta mu utk brsamanya,
Merelakan luka mnggerogoti hati q,
Bahagia mu bersanding dlm singgasana brmahkota cinta.
Hilang
Oleh: Rini Rahmawati
Aq meringkuk sendiri dlm temaram senja,
Di emperan kota metropolit,
Tak q miliki sesuatupun dlm hdup,
Hanya sebongkah hati yg cukup brharga,
Hilang harap q dlm waktu sekejap,
Hilang cinta q dlm luka lara saat kau pergi,
Hilang mimpi ku dlm kabut yg mengkabut,
Hilang rasa q kebal sudah aq dlm benturan2 kehidupan,
Hilang sudah semua menghilang tak brbekas,
Smua mata memandang q hina,
Entah sudah berapa orang yg meludah tepat di muka,
Tak terhitung lgi dlm angka2 cibiran2 menghujam jantung q,
Sudah...sudah...gumam q,
Ingin q sudahi yg tak brkesudahan,
Sungguh memekakan suara2 itu,
Aq tak brdaya merintih perih,
Mana Bpk q,mana Ibu q...?
Sungguh aq tak mengenali mereka,
Aq anak jalanan brkawan debu&polusi,
Aq gembel kumal yg mengais makanan sisa,
Narasi q penuh ironi dlm kebisingan,
Siapa mau dengar???
Mungkin hanya angin yg brlalu,
Rindu siapa yg sangat aq rindu???
Ibu yg melahirkan q tetapi mmbuang q bgtu saja,
Bpak yg harusny mnjaga&melindungi q tpi mencampakan&tak menganggap q,
Entahlah....aq msh meringkuk&mnggigil sepi,
Yg q rindu hanya butiran embun pagi,
Yg q rindu hnya malaikat brsayap&brjubah putih,
Yg q rindu uluran tangan dr TUHAN q,
Yg q rindu harap,cinta,mimpi, rasa q yg hilang,
Luruh hujan senja menirai do'a,
Aq menangis trsedu brsma gemercik air brtabuh pilu,
Aq meringkuk sendiri dlm temaram senja,
Di emperan kota metropolit,
Tak q miliki sesuatupun dlm hdup,
Hanya sebongkah hati yg cukup brharga,
Hilang harap q dlm waktu sekejap,
Hilang cinta q dlm luka lara saat kau pergi,
Hilang mimpi ku dlm kabut yg mengkabut,
Hilang rasa q kebal sudah aq dlm benturan2 kehidupan,
Hilang sudah semua menghilang tak brbekas,
Smua mata memandang q hina,
Entah sudah berapa orang yg meludah tepat di muka,
Tak terhitung lgi dlm angka2 cibiran2 menghujam jantung q,
Sudah...sudah...gumam q,
Ingin q sudahi yg tak brkesudahan,
Sungguh memekakan suara2 itu,
Aq tak brdaya merintih perih,
Mana Bpk q,mana Ibu q...?
Sungguh aq tak mengenali mereka,
Aq anak jalanan brkawan debu&polusi,
Aq gembel kumal yg mengais makanan sisa,
Narasi q penuh ironi dlm kebisingan,
Siapa mau dengar???
Mungkin hanya angin yg brlalu,
Rindu siapa yg sangat aq rindu???
Ibu yg melahirkan q tetapi mmbuang q bgtu saja,
Bpak yg harusny mnjaga&melindungi q tpi mencampakan&tak menganggap q,
Entahlah....aq msh meringkuk&mnggigil sepi,
Yg q rindu hanya butiran embun pagi,
Yg q rindu hnya malaikat brsayap&brjubah putih,
Yg q rindu uluran tangan dr TUHAN q,
Yg q rindu harap,cinta,mimpi, rasa q yg hilang,
Luruh hujan senja menirai do'a,
Aq menangis trsedu brsma gemercik air brtabuh pilu,
Wednesday, December 3, 2014
Bidadari Berhijab
Oleh: Rini Rahmawati
Bak bidadari yg tak trjamah,
Tubuhny trtutupi dg pakaian taqwa,
Tubuhny trbungkus dg kain keimanan,
Tak nampak sedikitpun aurat dr ujung kaki hingga ujung kepala,
Smuany trjaga&msh trjaga,
Akan d'persembahkanny kelak smua cinta&kasih,
Utk seorang yg berani mempersuntingnya,
Wajahnya ayu tunduk dlm malu,
Senyumnya sangat manis,
Aaaiihh...siapapun yg melihat senyumny pasti akn takjub,
Namun dia slalu brsembunyi d'dalam rumahnya,
Dan pd suatu ketika dia keluar rumah,
Orang2 menatapny dan melayangkn sbuah tanya,
Mengapa baru nampak skrng??
Tatapan matanya meneduhkan pandngan,
Trkadang trlihat tajam saat khusyu mmbaca Kitab,
Bidadari yg menyimpan sgala tentangny dlm untaian do'a,
Msh adakah bidadari itu??
Msh ada...krn dialah Bidadari Surga,
Bidadari yg berasal dr wanita2 sholeha d'bumi,
Dialah perhiasan yg paling brharga dlm kehidupan,
Melebi brharganya intan,emas,brlian,ataupun prmata...
Bak bidadari yg tak trjamah,
Tubuhny trtutupi dg pakaian taqwa,
Tubuhny trbungkus dg kain keimanan,
Tak nampak sedikitpun aurat dr ujung kaki hingga ujung kepala,
Smuany trjaga&msh trjaga,
Akan d'persembahkanny kelak smua cinta&kasih,
Utk seorang yg berani mempersuntingnya,
Wajahnya ayu tunduk dlm malu,
Senyumnya sangat manis,
Aaaiihh...siapapun yg melihat senyumny pasti akn takjub,
Namun dia slalu brsembunyi d'dalam rumahnya,
Dan pd suatu ketika dia keluar rumah,
Orang2 menatapny dan melayangkn sbuah tanya,
Mengapa baru nampak skrng??
Tatapan matanya meneduhkan pandngan,
Trkadang trlihat tajam saat khusyu mmbaca Kitab,
Bidadari yg menyimpan sgala tentangny dlm untaian do'a,
Msh adakah bidadari itu??
Msh ada...krn dialah Bidadari Surga,
Bidadari yg berasal dr wanita2 sholeha d'bumi,
Dialah perhiasan yg paling brharga dlm kehidupan,
Melebi brharganya intan,emas,brlian,ataupun prmata...
Lalaki dan Harapan
Oleh: Rini Rahmawati
Aq tlah trbiasa melihat kerapuhan q sndiri,
Trbiasa menikmati luka q sndiri,
Lbh trbiasa lagi mnyaksikan kelemahan&ketidak brdayaan q sndiri,
Tapi aq tdk biasa bila melihat/ menyaksikan sgala yg prnh aq rasa,
Ada pd seorang lelaki yg baik,
Atau di rasakan pula olehnya dlm kisah kehidupannya,
Rasanya aq ingin mmberikan
smua kekuatn q,kemampuan q,energi,dan daya hdup q utk nya,
Krn yg aq tau smua rasa itu hanya melekat pd wanita saja,
Tapi x ini aq tau lelaki pun bisa merasakan hal yg sama,
Namun lelaki itu hanya bisa menyimpan,memendam, dan menyembunyikan smua dlm lembaran2 hatinya,
Lelaki yg di penuhi oleh harapan2,
Saat dia kehilangan harapannya,
Dan tak tau lgi bagaiman carany utk dia kembali dlm harapan itu,,
Aq tlah trbiasa melihat kerapuhan q sndiri,
Trbiasa menikmati luka q sndiri,
Lbh trbiasa lagi mnyaksikan kelemahan&ketidak brdayaan q sndiri,
Tapi aq tdk biasa bila melihat/ menyaksikan sgala yg prnh aq rasa,
Ada pd seorang lelaki yg baik,
Atau di rasakan pula olehnya dlm kisah kehidupannya,
Rasanya aq ingin mmberikan
smua kekuatn q,kemampuan q,energi,dan daya hdup q utk nya,
Krn yg aq tau smua rasa itu hanya melekat pd wanita saja,
Tapi x ini aq tau lelaki pun bisa merasakan hal yg sama,
Namun lelaki itu hanya bisa menyimpan,memendam, dan menyembunyikan smua dlm lembaran2 hatinya,
Lelaki yg di penuhi oleh harapan2,
Saat dia kehilangan harapannya,
Dan tak tau lgi bagaiman carany utk dia kembali dlm harapan itu,,
Luka Terpendam
Oleh: Rini Rahmawati
Cahaya merebahkan diri d'langit senja,
Merah merona kilau mega megah,
Sunyi brpagut sepi,
Gemersik angin hampa mengisi berisik,
Menyusupi tulang2 iga dingin,
Penuh sesak rongga da2,
Suara rindu memekakan hati,
Aq hilang arah menjejak sndiri,
Ditinggal&meninggalkn cinta,
Terpaut rapuh q tnpa harap,
Meng-eja luka yg mngendap,
Sudah brjuta tak jua usai,
Mungkin waktu melipat cpt,
Tpi melambat pelan bagi q,
Luka q tak jua trhapus malah kian brtambah,
Menyibak nelangsa dlm lembaran yg q tulisi,
Temaram samar rupa derita,
Trpuruk luluh di keheningan,
Jeritan merintih2 pilu kesakitan,
Hanya menyeruak dlm hati,
Siapa mau dengar...?
Mungkin tiada lgi peduli,
Luruh meleleh benci&dendam,
Membaur bias cinta d'kegelapan,
Mendung berlayar d'langit senja,
Awan2 brduka dlm kesedihan,
Aq msh diam mendiami kubangan lara,
Hati sudah tak lagi brbentuk,
Hancur mngeping brserakan d'tepian pantai,
D'penhujung cerita penuh nestafa,
Bukan q perlihatkn pd smua mata,
Justru q sembunyikan ini dr smua,
Aq sendiri menanggung,
Menikmati sayatan brdarah hingga puas,
Nampaknya hingga aq lelah,
Atau tak lagi mampu brdiri,
Melanjutkn prjalan yg trhenti,
Setelah singgah pd satu hati yg tak q miliki,
Compang-camping mengais rasa,
Pengemis kata melerai air mata,
Pd senja aq menangis...;-(
Cahaya merebahkan diri d'langit senja,
Merah merona kilau mega megah,
Sunyi brpagut sepi,
Gemersik angin hampa mengisi berisik,
Menyusupi tulang2 iga dingin,
Penuh sesak rongga da2,
Suara rindu memekakan hati,
Aq hilang arah menjejak sndiri,
Ditinggal&meninggalkn cinta,
Terpaut rapuh q tnpa harap,
Meng-eja luka yg mngendap,
Sudah brjuta tak jua usai,
Mungkin waktu melipat cpt,
Tpi melambat pelan bagi q,
Luka q tak jua trhapus malah kian brtambah,
Menyibak nelangsa dlm lembaran yg q tulisi,
Temaram samar rupa derita,
Trpuruk luluh di keheningan,
Jeritan merintih2 pilu kesakitan,
Hanya menyeruak dlm hati,
Siapa mau dengar...?
Mungkin tiada lgi peduli,
Luruh meleleh benci&dendam,
Membaur bias cinta d'kegelapan,
Mendung berlayar d'langit senja,
Awan2 brduka dlm kesedihan,
Aq msh diam mendiami kubangan lara,
Hati sudah tak lagi brbentuk,
Hancur mngeping brserakan d'tepian pantai,
D'penhujung cerita penuh nestafa,
Bukan q perlihatkn pd smua mata,
Justru q sembunyikan ini dr smua,
Aq sendiri menanggung,
Menikmati sayatan brdarah hingga puas,
Nampaknya hingga aq lelah,
Atau tak lagi mampu brdiri,
Melanjutkn prjalan yg trhenti,
Setelah singgah pd satu hati yg tak q miliki,
Compang-camping mengais rasa,
Pengemis kata melerai air mata,
Pd senja aq menangis...;-(
Lelah
oleh: Rini Rahmawati
Di hamparan gurun pasir nan tiada batas
Di balik bukit senja merah bersemayam
Kilau cahaya menerpa yang terhampar
Kaktus berduri masih kokoh berdiri
Walau panas matahari ganas membakarnya
Jingga keemasan senja kaki langit
Bertegur sapa dengan batas gurun pasir nan jauh di sana
Indah sangat indah penuh misteri
Liukan angin mnggulung mmbawa butiran pasir yang tak brdaya
Kemana singgah,di mana singgah hanya pasrah
Kubangan kecil oase cukup dalam
Beberapa bunga kecil brtahan dalam musim yang sangat ekstrim
Ada sosok malaikat bersayap putih
Duduk mematung&menangis
Bibirnya tiada henti berucap
Namun ucapanny tak terdengar
Sangat lirih seperti gumaman
Air matany tercecer lalu bermuara membentuk oase yang baru
Rupanya malaikat itu terbentuk dari gumpalan awan putih
Malaikat bawa serta aq dalam dunia mu
Terbangkan aq dari tempat hina ini
Singgahkan aq dalam senja mu, Aku lelah dlm pasrah
Aku muak dg smua wajah
Aku jengah dg smua yg ku dengar
Aku benci dg smua kepalsuan
Aku marah dg kemunafikan
Aku murka dg kepura-puraan
Aku tak sanggup lgi menyembunyikan sgala kebusukan nya
Tiada prnh berubah kian mmburuk saja
Malaikat...genggam tangan ku
Biar aku mati di pelukan mu,
Di hamparan gurun pasir nan tiada batas
Di balik bukit senja merah bersemayam
Kilau cahaya menerpa yang terhampar
Kaktus berduri masih kokoh berdiri
Walau panas matahari ganas membakarnya
Jingga keemasan senja kaki langit
Bertegur sapa dengan batas gurun pasir nan jauh di sana
Indah sangat indah penuh misteri
Liukan angin mnggulung mmbawa butiran pasir yang tak brdaya
Kemana singgah,di mana singgah hanya pasrah
Kubangan kecil oase cukup dalam
Beberapa bunga kecil brtahan dalam musim yang sangat ekstrim
Ada sosok malaikat bersayap putih
Duduk mematung&menangis
Bibirnya tiada henti berucap
Namun ucapanny tak terdengar
Sangat lirih seperti gumaman
Air matany tercecer lalu bermuara membentuk oase yang baru
Rupanya malaikat itu terbentuk dari gumpalan awan putih
Malaikat bawa serta aq dalam dunia mu
Terbangkan aq dari tempat hina ini
Singgahkan aq dalam senja mu, Aku lelah dlm pasrah
Aku muak dg smua wajah
Aku jengah dg smua yg ku dengar
Aku benci dg smua kepalsuan
Aku marah dg kemunafikan
Aku murka dg kepura-puraan
Aku tak sanggup lgi menyembunyikan sgala kebusukan nya
Tiada prnh berubah kian mmburuk saja
Malaikat...genggam tangan ku
Biar aku mati di pelukan mu,
Subscribe to:
Posts (Atom)